 SAMARINDA - Pemprov Kaltim bekerja sama dengan investor asal
Uni Emirat Arab (UEA) sepakat akan membangun rel Kereta Api (KA) dari
Muara Wahau, Maloy, hingga Lubuk Tutung. Perencanaan awal, Rel KA itu
masih khusus untuk mengangkut batu bara dan Crude Palm Oil (CPO). Namun
ke depan akan lebih dikembangkan untuk mengangkut komoditi lainnya
hingga KA untuk penumpang. "Kami sudah bersepakat untuk membangunnya, karena terus terang saja
dalam mengembangkan kawasan industri dan ekonomi khususnya di Maloy,
diperlukan rel kereta api itu sebagai akes tercepat dalam
pengirimannya," kata Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Kamis (19/2). Nilai investasi pembangunan rel KA akan menggunakan biaya sekitar 900
juta dollar AS. Pembiayaan sepenuhnya dibiayai investor Uni Emirat Arab
tersebut. "Sementara ini proses legalitas perizinan akan diproses, mudah-mudahan
dalam seminggu ini bisa selesai, sehingga pembangunannya bisa segera
direalisasikan. Karena kita sangat berharap, melalui rel kereta api
ini, program pengembangan ekonomi Kaltim kita terus meningkat," ujarnya. Panjang rel KA di Kaltim ini akan menjadi terpanjang se-Indonesia
dibandingkan dengan rel KA batu bara di daerah lain, yakni 1,435 meter.
Sebut saja di Jawa, ada rel KA batu bara panjang hanya 1,067 meter.
"Minat investor Uni Emirat Arab ini membuktikan, jika ke depan
mereka melihat jika perkembangan ekonomi dengan berinvestasi di Kaltim
cukup menjanjikan," kata Awang. Lantas kapan hal itu akan terealiasi? Menurut Awang, proses
keadministrasian khususnya legalitas perizinan masih dalam proses dalam
waktu dekat ini, setelah itu dilakukan perencanaan pembangunan, baru
pengerjaan dimulai. "Ya kita berharapnya 2009 ini sudah bisa dilaksanakan pengerjaan di
lapangan. Seiring kita juga yang mengembangkan kawasan industri dan
ekonomi Maloy itu. Dan diharapkan akan bersamaan terealisasinya,
sehingga bersamaan juga bisa berjalan dalam upaya pengembangan sektor
ekonomi Kaltim ke depan," katanya. Ditambahkannya, selain tertarik untuk membangun rel KA itu, investor
Uni Emirat Arab tersebut juga berniat menanamkan modalnya untuk
membangun jalan bebas hambatan atau jalan tol yang selama diwacanakan
oleh Awang, dengan kompensasi antara lain berupa lahan batu bara,
perkebunan atau konsesi batu kapur untuk bahan baku semen. "Kaltim memiliki sumber daya alam yang cukup besar sebagai kompensasi,
antara lain berupa batu bara, batu kapur untuk bahan baku semen, emas,
amonium nitrat dan lahan luas yang dapat dikerjasamakan dalam jangka
waktu hingga 30 tahun, jadi semua bisa dilaksanakan sesuai dengan yang
diharapkan," tambah Awang. Pada hari yang sama Awang melakukan pertemuan dengan Badan Koordinasi
Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta Dalam pertemuan itu, BKPM menyatakan
kesiapannya untuk membantu Kaltim mengundang sejumlah investor seiring
dengan upaya Kaltim menarik investasi sebanyak mungkin demi
kesejahteraan masyarakat. "Selama Kaltim bisa memberikan kepastian hukum dalam investasi, saya
siap mengundang investor ke Kaltim dan untuk tahap awal kita akan
mengirim tim guna melakukan pengkajian," kata Muhammad Lutfi, Kepala
BKPM. Menurut Lutfi, ada beberapa hal yang menarik perhatian BKPM salah
satunya adalah pengembangan wilayah Maloy dan sekitarnya menjadi
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang didukung dengan penyediaan untuk
perkebunan nanas, kenaf, coklat, sawit dan berbagai komoditas unggulan
lainnya. Begitupula dengan pengembangan wilayah ekonomi lainnya, yakni
kawasan industri kariangau di Balikpapan dan Pelabuhan Peti Kemas serta
penumpang di Samarinda. "Dan kami pikir banyak potensi Kaltim yang bisa menarik investor di sana, makanya BKPM siap membantu," katanya dengan tegas. Bahkan untuk memberikan keyakinan itu, disebutkan Lutfi, nantinya BKPM
akan menempatkan skretariat daerah yang dipimpin setingkat eselon III
di Jakarta guna melakukan berbagai proses perizinan dan promosi dari
daerah masing-masing. (aid) Sumber : Tribun Kaltim (20/2/2009)
|